JFN, Ngawi – Gelaran politik di Kabupaten Ngawi memasuki babak baru dengan semangat yang berbeda. Sepanjang 7 - 9 Agustus 2026, Dewan Pengurus Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (DPC PKB) menggelar Musyawarah Anak Cabang (Musancab) secara serentak di enam titik daerah pemilihan (dapil). Tidak sekadar ritual pergantian pengurus, momen ini diyakini sebagai penegasan ulang komitmen partai sebagai alat perjuangan rakyat, bukan sekadar mesin kekuasaan.
Musancab yang melibatkan sekitar 1.500 kader struktural dari tingkat Anak Cabang (DPAC) hingga Ranting (DPRt) ini menjadi panggung utama bagi PKB Ngawi untuk mendeklarasikan “Politik Pengabdian.” Di tengah hiruk-pikuk manuver politik nasional yang kerap terjebak pada pragmatisme kekuasaan, PKB Ngawi justru memilih jalan konsolidasi ideologis yang berakar pada kepentingan masyarakat bawah.
Ketua DPC PKB Ngawi, Nuri Karimatunnisa (Ning Nuri), dengan tegas menyatakan bahwa Musancab merupakan tonggak lahirnya kepemimpinan baru yang memiliki keberpihakan. Baginya, regenerasi bukanlah proyek teknis semata, melainkan transformasi mentalitas kader agar tidak kehilangan "akar rumput."
“Musancab ini adalah bentuk tanggung jawab moral kami untuk memastikan bahwa politik di Ngawi adalah politik yang mengabdi. Kami tidak hanya berganti orang, tetapi kami ingin mengubah cara pandang berpolitik,” ujar Ning Nuri dalam pidato politiknya di tengah acara, Minggu (9/8/2026).
“Pengurus baru di kecamatan jangan menjadi birokrat partai, tetapi mereka harus menjadi abdi bagi masyarakat. Kader muda harus menjadi energi baru yang membawa misi kerakyatan, bukan sekadar mengejar posisi.”
Perspektif politik yang dibawa oleh Ning Nuri—yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi I DPRD Ngawi—ini menempatkan Musancab sebagai instrumen "Koreksi Politik." Dalam pandangannya, konsolidasi organisasi yang dilakukan saat ini adalah upaya strategis untuk menghadapi Pemilu dan Pileg 2029, namun dengan narasi yang berbeda. Targetnya bukan sekadar kursi, melainkan dominasi pengaruh moral di tengah masyarakat.
“Target kami tidak semata-mata kemenangan angka di bilik suara. Target utama kami adalah bagaimana PKB mampu menjadi rumah bagi semua lapisan masyarakat. Kami ingin seluruh struktur bergerak hari ini, bukan saat kampanye tiba. Kami ingin hadir, membantu, dan menyelesaikan persoalan warga. Jika itu berhasil, kemenangan adalah konsekuensi logis dari sebuah pengabdian,” tegas Ning Nuri.
Senada dengan itu, Sekretaris DPC PKB Ngawi, H. Anas Hamidi, menambahkan bahwa momentum Musancab harus menjadi alarm bagi para kader untuk meninggalkan pola politik "monumental" dan beralih ke pola "konstruktif." Menurutnya, ujung tombak partai di tingkat desa memiliki tanggung jawab besar untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap institusi politik.
“Kekuatan PKB ada di hati masyarakat. Karena itu, kepengurusan baru jangan berhenti pada struktur di atas kertas. Jika kita bicara politik pengabdian, maka pengurus harus turun ke sawah, ke pasar, ke pabrik. Kader kita dituntut memiliki kepekaan sosial yang tinggi, bukan hanya kepandaian berpidato,” ujar Anas.
Dengan bergulirnya Musancab ini, PKB Ngawi memasuki fase baru. Tidak ada lagi jarak antara pemimpin dan rakyat. Melalui kaderisasi yang terencana dan pendataan simpatisan yang masif, partai berlogo bintang sembilan ini memproyeksikan dirinya sebagai lokomotif perubahan yang menyatukan semangat nasionalisme dan kepedulian sosial. Musancab bukanlah akhir dari sebuah proses, melainkan titik awal bagi perjalanan panjang politik kebangsaan yang sesungguhnya: politik untuk kemanusiaan. (RYS)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar